INILAH 25 NASEHAT ISLAM PENTING YANG BERSUMBER DARI AL-QUR'AN DAN HADIST

25 Nasihat Islami yang bersumber dari Al Qur’an dan Hadits. Al Qur’an dan Hadits adalah dua pedoman utama manusia dalam menjalani hidup di dunia untuk meraih kebahagiaan di akhirat. Ketika mengalami masalah dan hambatan, mnusia seringkali butuh nasihat islami untuk lebih mengingat Allah SWT agar kembali sejuk hati dan pikirannya. Salah satu caranya adalah dengan menyimak kata-kata nasihat islami yang bersumber dari Qur’an dan Hadits. Berikut ini adalah kata-kata nasihat islami yang sekiranya mampu menyejukkan hati dan pikiran.
  1. Dan tolong-menolonglah kalian dalam melaksanakan kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam dosa dan permusuhan”. (Al-Mâidah : 2)
  2. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. — (QS.2:216), Al Quran
  3. Bagi tiap sesuatu terdapat ujian dan cobaan, dan ujian serta cobaan terhadap umatku ialah harta-benda. (HR. Tirmidzi)
  4. Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan meperlipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezki) dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan. — (QS.2:245), Al Quran
  5. Takutlah kalian terhadap sikap kikir, karena sesungguhnya kikir itu telah membinasakan orang2 sebelum kalian.(HR Muslim)
  6. Wahai orang-orang yang beriman, bertobatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya. (QS. Al-Tahrim: 8)
  7. Kejujuran adalah ketentraman, dan kebohongan adalah kebimbangan. (HR.Tirmidzi)
  8. Sesungguhnya orang-orang yang beriman, mengerjakan amal saleh, mendirikan shalat dan menunaikan zakat, mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. — (QS.2:277), Al Quran
  9. Tidak kecewa orang yang istikharah, tidak menyesal orang yang bermusyawarah & tidak akan melarat orang yang hemat.(HR.Thabrani)
  10. Barangsiapa mengutamakan kecintaan Allah atas kecintaan manusia maka Allah akan melindunginya dari beban gangguan manusia. — (HR. Ad-Dailami), Hadist
  11. Seorang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih disukai Allah daripada seorang mukmin yang lemah dalam segala kebaikan.(HR.Muslim)
  12. “Barangsiapa yang mengucapkan : “Subhanallahil ‘Adhim wa bi-Hamdih”, ditanamkan untuknya sebatang pohon kurma di surga” (HR. Turmudhi)
  13. Allah lebih mengetahui terhadap apa yang mereka lakukan sejak mereka diciptakan.(HR.Bukhari,Muslim)
  14. Kehidupan dunia dijadikan indah dalam pandangan orang-orang kafir, dan mereka memandang hina orang-orang yang beriman. Padahal orang-orang yang bertakwa itu lebih mulia daripada mereka di hari kiamat. Dan Allah memberi rezki kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya tanpa batas. — (QS.2:212), Al Quran
  15. Kami tidak menurunkan Al-Qur’an ini kepadamu agar kamu menjadi susah. (Thaha:2)
  16. Orangtua adalah pintu surga yang paling tengah, apabila kamu mau maka sia-siakanlah pintu tersebut atau peliharalah.(HR.Tirmidzi)
  17. Tiada makanan yang lebih baik daripada hasil usaha tangan sendiri. — (HR. Bukhari), Hadist
  18. Termasuk dari kesempurnaan keislaman seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat.(HR.Tirmidzi)
  19. Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. — (QS.16:18), Al Quran
  20. Di antara akhlak seorang mukmin adalah baik dalam berbicara, tekun bila mendengarkan, berwajah ceria, dan menepati janji.(HR. Ad-Dailami)
  21. Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. (QS. Al-Baqarah : 153)
  22. Sungguh sangat unik perkara orang mukmin, sesungguhnya semua perkaranya adalah baik. Jika ia mendapat kebahagiaan, ia bersyukur dan jika ia mendapat ujian ia bersabar, maka hal itu merupakan kebaikan baginya. (HR. Muslim)
  23. Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan orang lain.(HR. Muslim)
  24. Dan taatlah kepada Allah dan Rasul (Muhammad) agar kalian diberikan rahmat.” (QS. Ali ‘Imran: 132)
  25. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah Yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.(Az Zumar:10)
Demikianlah 25 Nasihat Islami yang bersumber dari Al Qur’an dan Hadits, semoga bermanfaat. terimakasih.

SAHKAH SHALATNYA PRIA YANG MEMAKAI CELANA KETAT MENAMPAKAN BENTUK TUBUH

Berdasarkan syariat dan hukumnya memakai pakaian apapun dibolehkan dalam Islam, asal sesuai dengan hukum-hukum Islam seperti tidak menampakan aurat, dan kecuali pakaian-pakaian tertentu yang termasuk dalam dalil-dalil yang menunjukkan pelarangan. Selain itu Islam tidak menetapkan model pakaian tertentu untuk shalat. Selama pakaian tersebut memenuhi syarat maka boleh dipakai untuk salat, apapun modelnya.

Dengan demikian, yang perlu kita pegang adalah bahwa hukum asal memakai celana panjang adalah mubah. Namun para ulama memang membahas keabsahan salat orang yang saat salat dengan memakai celana panjang pada 2 keadaan berikut:

1. Celana panjang yang dipakai masih menampakkan warna kulit dan menampakkan bentuk tubuh (ketat)

Pada kondisi ini para ulama ijma (bersepakat) bahwa hukumnya haram dan salatnya tidak sah. Sebagaimana yang dikatakan oleh Imam An Nawawi, ulama besar mahdzab Syafii, beliau berkata: "Jika sebagian aurat sudah tertutupi dengan sesuatu yang berbahan kaca, sehingga masih terlihat warna kulitnya, maka tidak sah salatnya tanpa ada perbedaan pendapat di antara ulama." (Al Majmu, 3/173)
Bahkan jika warna kulit hanya terlihat dengan samar, tetap tidak sah salatnya. Dijelaskan oleh Ibnu Qudamah, ulama besar mazhab Hambali, beliau berkata: "Menutup aurat sampai warna kulit tertutupi secara sempurna, hukumnya wajib. Jika warna kulit masih tampak oleh orang di belakangnya namun samar, yaitu masih bisa diketahui warna kulitnya putih atau merah, maka tidak sah salatnya. Karena pada kondisi demikian belum dikatakan telah menutupi aurat." (Al Mughni, 1/651)

2. Celana panjang yang dipakai telah menutupi warna kulit secara sempurna namun masih menampakkan bentuk tubuh (ketat)

Pada kondisi ini terjadi perbedaan pendapat di antara para ulama. Sebagian ulama mengatakan shalatnya tidak sah. Diantaranya Ibnu Hajar Al Asqalani, ulama besar mahdzab Syafii, beliau berkata: "Aku mendengar ini dari Asyhab, bahwa orang yang mencukupkan diri salat dengan memakai celana panjang padahal ia sanggup memakai pakaian yang tidak ketat, ia wajib mengulang salatnya pada saat itu juga, kecuali jika ia tidak tahu malu." (Fathul Bari, 1/476)

Tidak sahnya salat orang yang memakai pakaian ketat juga merupakan pendapat Syaikh Ibnu Baz, mantan ketua Komite Fatwa Saudi Arabia, ketika ditanya tentang hal ini beliau menjawab: "Jika celana pantalon ini menutupi aurat dari pusar sampai seluruh paha laki-laki, longgar dan tidak ketat, maka sah salatnya. Namun lebih baik lagi jika di atasnya dipakai gamis yang dapat menutupi hingga seluruh pahanya, atau lebih baik lagi sampai setengah betis, karena yang demikian lebih sempurna dalam menutupi aurat. Salat memakai sarung lebih baik daripada memakai celana panjang jika tidak ditambah gamis. Karena sarung lebih sempurna dalam menutupi aurat." (Majmu Fatawa Ibnu Baz,1/68-69, http://www.ibnbaz.org.sa/mat/2480).

Dalam penjelasan Syaikh Ibnu Baz ini juga ditegaskan bolehnya salat dengan memakai celana panjang tanpa ditambah gamis atau sarung, asalkan tidak ketat. Namun sebagian ulama berpendapat salatnya tetap sah jika ia telah menutupi warna kulit dengan sempurna walaupun bentuk tubuh masih terlihat (ketat). Sebagaimana pendapat Imam An Nawawi, bahkan beliau membantah ulama yang berpendapat salatnya tidak sah:

"Jika warna kulit telah tertutupi secara sempurna dan bentuk tubuh semisal paha dan daging betis atau semacamnya masih nampak, salatnya sah karena aurat telah tertutupi. Memang Ad Darimi dan penulis kitab Al Bayan menyampaikan argumen yang menyatakan tidak sahnya salat memakai pakaian yang masih menampakkan bentuk tubuh. Namun pendapat ini jelas-jelas sebuah kesalahan." (Al Majmu, 3/173).

Demikian juga pendapat Ibnu Qudamah, beliau menyatakan sahnya salat memakai pakaian yang ketat namun beliau tidak menyukai orang yang melakukan hal tersebut: "Jika warna kulit sudah tertutupi dan bentuk tubuh masih nampak, salatnya sah. Karena hal tersebut tidak mungkin dihindari (secara sempurna). Namun orang yang salat memakai pakaian ketat adalah orang yang tidak tahu malu." (Al Mughni, 1/651).

Sebagian ulama juga berpendapat salatnya sah namun pelakunya berdosa dikarenakan memakai baju ketat. Sebagaimana pendapat Syaikh Shalih Fauzan Al Fauzan hafizhahullah, ulama besar di Saudi Arabia saat ini, beliau berkata: "Baju ketat yang masih menampakkan bentuk tubuh wanita, baju yang tipis dan terpotong pada beberapa bagian, tidak boleh memakainya. Baju ketat tidak boleh digunakan oleh laki-laki maupun wanita, terutama bagi wanita, karena fitnah wanita lebih dahsyat. Adapun keabsahan salatnya tergantung bagaimana pakaiannya. Jika pakaian ketat ini dipakai seseorang untuk salat, dan telah cukup untuk menutupi auratnya, maka salatnya sah karena aurat telah tertutup. Namun ia berdosa karena memakai pakaian ketat. Sebab pertama, karena dengan pakaian ketatnya, ia telah meninggalkan hal yang disyariatkan dalam salat, ini terlarang. Sebab kedua, memakai baju ketat dapat mengundang fitnah karena membuat orang lain memalingkan pandangan kepadanya, apalagi wanita." (Muntaqa Fatawa Shalih Fauzan, 3/308-309).

Dari beberapa penjelasan di atas, dapat kita simpulkan bahwa letak perbedaan pendapat di antara para ulama adalah dalam memutuskan apakah memakai pakaian ketat dalam salat itu sudah termasuk menutup aurat atau tidak. Dengan demikian ini adalah perkara khilafiyyah ijtihadiyyah, yang masing-masing pendapat dari ulama tersebut harus dihormati. Namun yang paling baik adalah menghindari hal yang diperselisihkan dan mengamalkan hal yang sudah jelas bolehnya. Sehingga memakai pakaian yang longgar dan lebar hingga tidak menampakkan warna kulit dan tidak menampakkan bentuk tubuh adalah lebih utama.

Kemudian perlu digarisbawahi, seluruh penjelasan di atas berlaku bagi setiap orang yang memiliki kemampuan dalam pakaian, ia berkecukupan dalam berpakaian dan mampu mengusahakan untuk memiliki pakaian yang longgar dan tidak ketat. Adapun orang yang tidak berkemampuan untuk berpakaian yang longgar, misalnya orang miskin yang hanya memiliki sebuah pakaian saja, atau orang yang berada dalam kondisi darurat sehingga tidak mendapatkan pakaian yang longgar, maka salatnya sah dan ia tidak berdosa. Berdasarkan hadits dari Jabir bin Abdillah yang menceritakan dirinya ketika hanya memiliki sehelai kain untuk salat, maka Rasulullah Shallallahualaihi Wasallam bersabda: "Jika kainnya lebar maka gunakanlah seperti selimut, jika kainnya sempit maka gunakanlah sebagai sarung." (HR. Bukhari no.361).

Allah Taala juga berfirman: "Bertakwalah kalian semampu kalian." (QS. At-Taghabun 16)
Demikian penjelasan kami. Wallahualam. [Ustadz Kholid Syamhudi, Lc./Yulian Purnama].


Sumber: inilah.com

MENGAPA KEBATINAN MERUSAK SYARI'AT ISLAM ??!!

PAI----Kita sering mendengar tentang Aliran kebatinan yang banyak diberitakan media masa akhir-akhir ini. Banyak umat muslim yang kurang memahami ajaran Islam yang benar menurut syariat, turut terjebak mengikuti aliran ini. 

Apa yang disebut aliran kebatinan itu? 

Secara kebahasaan, Batin bermakna bagian dalam, samar dan tersembunyiSecara istilah, batiniyah bermakna kelompok yang mengaku bahwa zhawahir (makna-makna terang) al-Qur’an dan hadits memiliki makna batin (tersembunyi), tak obahnya kulit dengan sari patinya, yang dapat dipahami oleh orang-orang tertentu, bukan oleh orang-orang awam.

Menurut keterangan Asy-Syaikh Ibnul Jauzi, bahwa gerakan kebatinan merupakan suatu golongan yang tersendiri, bertujuan hendak meloloskan diri dari Agama Islam dengan menimbulkan faham yang bukan-bukan dan bertentangan sekali dengan ajaran Islam yang benar.

Kebatinan itu merusak syari'at Islam, tepat juga seperti yang dikatakan oleh Ibnu 'Uqil:

"Islam itu binasa di antara dua golongan: Kaum batin dah kaum zhahir. Kaum batin merusak zharinya syaria'at dengan tafsir-tafsir yang mereka da'wakan, sehingga tidak ada dasar keterangannya, sehingga tidak ada yang tinggal sedikitpun dalam syari'at, melainkan mereka sudah membuat arti yang lainnya, sehingga mereka gugurkan kewajibanya yang wajib, dan larangan yang dilarang. Adapun kaum zhahir mereka mengambil yang dilarang. Adapun kaum zhahir mereka mengambil yang nyatanya saja dari pada perkara yang perlu kepada ta'wil. Maka mereka bawa sifat-sifat dan nama-nama Allah, menurut pendapat akal mereka saja.

Yang paling benar berdiri di antara dua golongan itu, yaitu kita mengambil zhahirnya, selama tidak ada dalil yang memalingkannya. Dan kita buang semua yang batin, yang tidak ada bukti dalil-dalil syari'at".

Hal ini dikemukakan begitu jauh, karena begitu bahaya kebatinan itu sangat besar bagi kerusakan syari'at Islam.

Di tanah air kita Indonesia sudah banyak orang yang terkena aliran kebatinan itu, walaupun berbeda dari asalnya. Mereka mengaku beragama Islam, tetapi cara sholatnya sangat aneh yaitu cukup dengan niat saja. Sungguh mereka telah ikut dan disesatkan oleh Syetan.  Na'udzubillahi min dzalik, tsumma na'udzubillah.


Baca juga Kenali dan Waspadai ALIRAN KEBATINAN di sekitar kita!! di sini >>>>

INILAH CARA CEPAT MENGUASAI LAGU-LAGU TILAWAH AL-QUR'AN




PAI----Dalam membaca Al-Qur'an ada hal-hal tertentu yang harus diperhatikan. Di antara yang harus mendapat perhatian serius adalah soal "mengindahkan atau memperbagus irama". Tentu ini merupakan bagian kecil saja dari bagian-bagian yang lain yang penting.
Soal suara, kita sepakat bahwa setiap kita diberikan anugerah suara yang khas. Ada yang sama namun kebanyakan orang berbeda suaranya. Bahkan bila ada orang yang mukanya mirip suara mereka biasanya agak berbeda. Sampai di sini tentu kita faham bahwa ini merupakan 'athifah' atau bakat masing-masing. Selain itu, bersuara juga dalam kondisi khusus merupakan anugerah terindah. Betapa tidak, bila ada seorang bayi lahir, suara tangisannya sangat ditunggu-tunggu, dan orang-orang yang mengerumuninya tersenyum gembira.

Selanjutnya di atara bukti kuasa Allah adalah Ia menciptakan manusia dengan karakter yang berbeda-beda. Ada yang datar, bergelombang, mendayu, dan bergetar. Di samping itu ada yang bersuara lembut ada yajuga yang berat dan serak. Ada yang di dalam ada juga yang mengeluarkan suaranya persis berdengung ke luar lewat hidung. Semua itu merupakan keanekaragaman yang luar biasa.

Dari perkataan di atas, tibalah sekarang pada soal mengolah suara. Seperti yang kita tahu bahwa suara ada yang mudah sekali diolah ada pula yang seolah tidak mau berubah. Dalam tataran pendidikan, tentu pada dasarnya suara dapat diolah. Buktinya pelatihan-pelatihan vokal sangat diminati dari dahulu hingga sekarang. Maka dari segi ini dapatlah kita mengambil sudut pandang bahwa ada suara yang sangat bagus dan indah, ada juga yang krang bagus atau bahkan disebut sama sekali tidak ada bagus-bagusnya. Kalimat ini menemukan kristalnya pada adanya frasa "suara emas". Artinya suara ini berkelas dan mahal.



Manusia menyukai Keindahann

Selain manusia punya potensi fitrah berkebaikan, ia juga dianugerahi semangat mengenal hal baru, dan berhasrat pada kebenaran, kebaikan dan keindahan. Maka semua yang dilakukannya sangat dipengaruhi oleh citra kebenaran, kebaikan, dan keindahan menurut dirinya. Setiap orang memiliki citra masing-masing yang pada dasarnya tidak bisa diintervensi oleh orang lain. Menurut orang mungkin indah namun menurutnya belum tentu begitu. Ini bisa diketahui dari sebuah kalimat fakta di masyarakat yang sering menyebut seseorang yang bercitra beda itu dengan sebutan (maaf) misalnya; gila atau buta.

Pada titik ini kita berhenti sejenak. Barang kali beragama juga selain memuaskan hasrat mencari kebenaran dan kebaikan, juga (dimungkinkan) sebagai bentuk pemenuhan hasrat akan keindahan. Teks-teks agama banyak yang mengindikasikan hal itu. Dikatakan bahwa Tuhan itu Maha Indah, dan ia saking indahnya tidak ada satu pun makhluk yang menyamai keindahan-Nya.

Manusia memang sangat gemar keindahan dengan citranya masing-masing. Bahkan manusia diyakini sebagai wujud paling indah di mayapada ini. Bahkan ia diberi hidup dan akal. Maka keindahan yang tanpa ruh itu tidak sempurna. Begitu pula orang yang ganteng atau cantik bila mati atau tidak berakal menjadi kurang keindahannya.


Suara Indah sangat dicari Manusia

Konon katanya dahulu putera-puteri adam ada yang hidup di perkampungan-perkampungan kecil dan terpiah-pisah. Ada yang hidup di gunung-gunung ada juga yang hidup di lembah-lembah. Dan sudah menjadi fitrah hidup manusia yang ingin berpasangan. Maka putera-puteri itu ingin lah saling mengenal. Hingga para lelaki di antara mereka membuat seruling yang bersuara merdu saat ditiup. Itu membuat perhatian para puteri Adam terpusat perhatiannya. Dan orang yang bisa meniup seruling dengan nada yang indah akan mendapat perhatian lebih.

Kisa di alinea itu terjadi di masa lalu, lalu bagaimana dengan kejadian di masa sekarang. Dapatlah bisa disampaikan bahwaitu tetap dan akan berlangsung seperti itu. Sudah fitrahnya begitu. orang yang bersuara emas akan mendapatkan perhatian lebih dari sesamanya. Ia akan banyak yang mendekati dan biasanya mahal bila diundang.


Pentingnya Suara Indah dalam Tilawah Al-Qur'an

Sebelum lebih lanjut, mari kita simak keterangan berikut ini;
أَخْبَرَنَا الْفِرْيَابِيُّ , قَالَ: نا صَفْوَانُ بْنُ صَالِحٍ قَالَ: نا مُحَمَّدُ بْنُ شُعَيْبٍ قَالَ: نا الْأَوْزَاعِيُّ , عَنْ إِسْمَاعِيلَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ أَنَّهُ حَدَّثَهُ , عَنْ فَضَالَةَ بْنِ عُبَيْدٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «لَلَّهُ أَشَدُّ أَذَنًا إِلَى الرَّجُلِ الْحَسَنِ الصَّوْتِ بِالْقُرْآنِ مِنْ صَاحِبِ الْقَيْنَةِ إِلَى الْقَيْنَةِ» قَالَ الْأَوْزَاعِيُّ: يَعْنِي أَذَنًا: اسْتِمَاعًا "
Dalam teks berbahasa ini ada yang bisa kita fahami, bahwa yang berusaha memperbagus suara ketika membaca Al-Qur'an akan mendapatkan kesempatan besar bacaannya lebih didengarkan oleh Allah yang Maha Melihat dan Maha Mendengar.


Mari kita menyimak lagi satu keterangan tentang hal ini;
وَأَخْبَرَنَا الْفِرْيَابِيُّ , قَالَ: نا أَبُو قُدَامَةَ , وَعُمَرُ بْنُ عَلِيٍّ قَالَ: أنا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ , عَنْ شُعْبَةَ قَالَ: حَدَّثَنِي طَلْحَةُ بْنُ مُصَرِّفٍ , عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَوْسَجَةَ , , عَنِ الْبَرَاءِ بْنِ عَازِبٍ , عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «زَيِّنُوا الْقُرْآنَ بِأَصْوَاتِكُمْ»
Keterangan ini meminta orang yang membaca Al-Qur'an agar berusaha menghiasi bacaan Qur'annya dengan kebenaran tajwid dan keindahan suara, tentu dengan penghayatan dan niat kuat untuk mengamalkan ajarannya.

Dalam ataran filosofis tentu harus pula memperhatikan suara yang seperti apa yang pantas bagi bacaan Al-Qur'an. Salah satunya tentu kita harus mencari informasi lebih banyak tentang bagaimanakan dahulu Rasulullah melantunkannya di hadapan para sahabat-sahabatnya, atau bagaimana sahabat-sahabat Rasulullah melantukan bacaan Al-Qur'an di hadapan Rasulullah SAW atu di halaqah-halaqah dzikir.
Baik untuk catatan saja bahwa ada kriteria tertentu yang sangat baik ketika membaca Al-qur'an, di antaranya adalah keterangan berikut ini;
حَدَّثَنَا عُمَرُ بْنُ أَيُّوبَ السَّقَطِيُّ قَالَ: نا عَبْدُ اللَّهِ الْقَوَارِيرِيُّ , قَالَ: نا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ جَعْفَرٍ , قَالَ: نا إِبْرَاهِيمُ , عَنْ أَبِي الزُّبَيْرِ , عَنْ جَابِرٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِنَّ أَحْسَنَ النَّاسِ صَوْتًا بِالْقُرْآنِ الَّذِي إِذَا سَمِعْتَهُ يَقْرَأُ حَسِبْتَهُ يَخْشَى اللَّهَ»

Nah, itulah salah satunya. Suara yang indah dan mengingatkan kita akan bahaya dan huru-hara siksa Allah dan neraka, atau membuat hati tertarik dengan surga dengan mendengar bacaan Al-Qur'an dengan suara tersebut. Dalam ilmu jiwa ada disebutkan bahwa jiwa atau ruh itu akan saling mengenal. Yang bik akan mengenal yang baik dan yang buruk akan mengenali yang buruk. Dari sini menghadirkan hati yang khusyu' saat membaca Al-Qur'an harus sangat diusahakan lagi.


Urgensi Lagu-Lagu Tilawah Al-Qur'an

Di alinea-alinea di atas telah disebutkan bahwa suara indah sangat penting. Dan bila kita melatihnya dengan tujuan bersyukur kepada  Allah dan beribadah kepadanya dengan mengerahkan segenap potensi yang ada tentu itu hal yang sangat baik sekali. Dan Islam sangat perhatian dalam masalah ini. Beginilah indah nya Islam. Ia itu "syumul" meliputi dan mengatur dari bagian terkecil hidup manusia hingga aspek-aspek besar yang meliputi hajat dan risalah hidupnya. Ia mendorong penggunaan potensi dan nikmat Allah pada tempat yang benar, baik dan indah sesuat dengan ajarannya.

Dalam hal lagu, Peradaban Islam mencatat bahwa ada setidaknya 7 lagu pokok dalam tilawah Al-Qur'an. Dan tentu dari 7 lagu ini ada variasi dan keindahan dan pemanis masing-masing. Trik dan gaya penyampaiannya telah banyak dipelajari di banyak tempat. Kapankah lag ini digunakan dengan bentuk aslinya dan kapan pula ia harus dipotong atau dilantunkan dengan variasi baru ang menggigit dan lebih meninju hati pendengar lagi.

Tujuh lagu dalam bacaan Al-Qur'an ini merupakan standar. Ia diambil dari negeri-negeri Arab ang meliputi Jazirah Arabia. Tentunya kembali pada pemahaman di atas, bahwa semua harus atas persetujuan Nabi SAW.

Kita sebut satu persatu; Pertama Bayyati, Shaba, Hijaz, Rasst, Nahawand, Syika, dan Jihar Ka. Dari tujuh ini ada tingkatan nada dan variasi masing-masing. Kita dapat mempelajari dan mengetahui trik melantunkannya dari gelaran MTQ baik di dalam negeri atu di luar negeri.

Untuk para Qori di Indonesia, variasi pelantunan ke-tujuh lagu itu berkiblat kepada H Mu'ammar atau H Chumaidi. Kemudian qari-qari yang lain. Dan Para guru itu sangat dipengaruhi oleh gaya variasi lagu timur tengah khussnya Mesir. Qari-Qari dari tanah Nabi Yusuf ini sangat digemari oleh putera-puteri Indonesia. Beragam variasi bisa kita pelajari sesuai dengan kecocokan suara dan gaya yang ingin di duplikasi.


Cara Cepat mempelajari Tujuh Lagu Al-Qur'an

Tenang saja, sub judul ini merupakan bukan sesuatu yang sulit. Ingat suara adalah fitrah dan anugerah. Bila orang lain bisa tentu kita bisa. Maka kesungguhan, do'a dan keuletan akan sangat ampuh dan berperan penting dalam pelatihan apapun.

Pertama, harus di sampaikan bahwa ke-tujuh lagu di atas telah mngindonesia. arinya itu telah tersebar dalam bacaan Al-Qur'an atau kitab, lagu religi, bahkan dalam lagu adzan. Hanya saja kita sering tidak tahu namanya. Untuk pertama kali jangan hiraukan dulu bila sulit menebak nama. Manfaatkanlah referensi lagu adzan atau surat-surat pendek yang telah dikenali. Lanjutkan jangan segan-segan untuk melantunkannya kembali.

Kedua, sering-seringlah mendengarkan bacaan Al-Qur'an dari H. Muammar atau H. Chumaidi. Di situ kita bisa mengenal variasi dari ke-tujuh lagu itu. Ingat, sering mendengar berarti kita merangsang otak untuk mengingat.

Ketiga, tentu ini yang pokok, belajarlah pada guru dan di tempat khusus. Belajar di hadapan guru secara langsung akan meningkatkan akselerasi kemampuan kita. Ini disebut berkah talaqqi dan silaturahim dalam berilmu. Janganlah kita sering-sering mengambil ilmu dengan mencukupkan diri dai menonton video, mendengar MP3, atu membaca buku, tanpa kita bertemu guru. Maka belajarlah [pada Pesantren Al-Qur'an dan Tahfidz agar kita mengalami Quantum dan akselerasi dalam menguasai lagu-lagu Al-Qur'an. 

* * *

INILAH ALASAN ILMIAH DILARANG KELUAR RUMAH SAAT MAGHRIB SENJA TIBA

Sisa-Harimanusia----Saat senja telah tiba dan Maghrib merupakan waktunya Shalat  tiga rakaat, yang dilakukan pada saat ketika bumi berpindah waktu dari siang menjadi malam hari. Saat Maghrib tiba, orang tua biasanya menyuruh anaknya untuk masuk ke dalam rumah dan menghentikan aktivitas di luar rumah. Orang tua jaman dahulu banyak yang masih percaya bahwa saat Maghrib tiba, akan banyak hantu, setan dan jin yang berkeliaran yang akan mengganggu atau merasuki manusia. Setelah Magrib, mereka kembali membiarkan anak-anaknya untuk bermain di luar rumah.
Senja-Maghrib
Bagi umat Islam, larangan keluar senja ketika maghrib tiba, merupakan suatu yang memang sangat diyakini kebenarnnya. Tetapi pada umumnya mereka hanya meneruskan kebiasaan orang tua dan tidak mengetahui bahwa sebenarnya larangan ini ada dalilnya yaitu dalam hadist Nabi. Dalam sabdanya, Nabi SAW mengatakan bahwa ketika Maghrib, akan banyak setan dan jin yang berkeliaran. Ternyata, hadist Nabi ini bisa dijelaskan secara ilmiah.


Dalam hadist Nabi Muhammad SAW bersabda “Jangan kalian membiarkan anak anak kalian di saat matahari terbenam sampai menghilang kegelapan malam sebab setan berpencar jika matahari terbenam sampai menghilang kegelapan malam,”  (Dari Jabir dalam kitab Sahih Muslim).

Selain itu juga dijelaskan dalam Sahih Muslim Nabi, bersabda: 

Jika sore hari mulai gelap maka tahanlah bayi bayi kalian, sebab iblis mulai bergentayangan pada saat itu. Jika sesaat dari malam telah berlalu maka lepaskan mereka, kunci pintu-pintu rumah dan sebutlah nama Allah, sebab setan tidak membuka pintu yang tertutup. Dan tutup rapat tempat air kalian dan sebutlah nama Allah. dan tutup tempat makanan kalian dan sebutlah nama Allah. meskipun kalian mendapatkan sesuatu padanya.” (HR Muslim)


Hadist Nabi SAW ini bisa dijelaskan secara ilmiah. Sebuah buku ilmiah keagamaan karya Prof. DR. Ir. H. Osly Rachman, MS berjudul The Science Of Shalat yang diterbitkan Qultummedia  menjelaskan bahwa menjelang Maghrib, alam akan berubah menjadi spektrum cahaya berwarna merah. Cahaya merupakan gelombang elektromagnetis (EM) yang memiliki spectrum warna yang berbeda satu sama lain. Setiap warna dalam spectrum mempunyai energi, frekuensi dan panjang gelombang yang berbeda.

Dalam bukunya dijelaskan bahwa ketika waktu Maghrib tiba, terjadi perubahan spectrum warna alam selaras dengan frekuensi jin dan iblis, yakni spektrum warna merah. Pada waktu ini,  jin dan iblis amat bertenaga karena memiliki resonansi bersamaan dengan warna alam. Pada waktu Maghrib, banyak interfernsi atau tumpang tindihnya dua atau lebih gelombang yang berfrekuensi sama sehingga penglihatan terkadang kurang tajam oleh adanya fatamorgana.

Dalam Islam, pada waktu magrib dijelaskan bahwa setan bersamaan dengan datangnya kegelapan mulai menyebar mencari tempat tinggal, karena mereka tersebar dengan pemandangan luar biasa biasa dan jumlah yang tidak ada yang tahu selain Allah. Sebagian setan takut dari kejahatan setan yang lain, sehigga setan harus memiliki sesuatu yang dijadikannya sebagai tempat berlindung dan mencari tempat aman.

Maka ia bergerak dengan cepat melebihi kecepatan manusia dengan kecepatan berlipat lipat, beberapa dari mereka berlindung dalam wadah kosong, berlindung ke rumah kosong, dan beberapa dari mereka berlindung kepada sekelompok manusia yang sedang duduk duduk. Mereka tentu tidak merasakannya, mereka ikut menimbrung supaya menjadi aman dari penindasan saudara sesama setan yang juga berkeliaran seperti angin di bumi karena yang boleh hidup hanya yang kuat saja.

Kadang kala setan mengganggu anak kecil manusia untuk dijadikan tempat berlindung. Selain itu setan juga berlindung ditempat yang kotor seperti pada popok bayi yang sudah kotor. Mereka lebih memilih popok bayi karena najis sebagai tempat persembunyian, sehingga mendorong mereka untuk tinggal.

Anda pasti pernah menemukan beberapa anak menjerit tiba-tiba dan beberapa yang menggelapar dalam tidurnya karena gangguan iblis yang merasukinya saat dijadikan tempat berlindung.

Adapun mengenai makhluk gaib yang keluar pada waktu tersebut, target utamanya adalah anak-anak yang usianya masih di bawah dua tahun dan Ibu hamil. Konon selain psikis, jin ini juga bisa menyebabkan penyakit fisik. Untuk itu, perlu bagi kita untuk mengenali siapa jin tersebut, bagaimana kerjanya, serta cara mengantisipasinya.

Jin wanita yang disebutkan tesebut bernama Ummu Sibyan Mereka akan mengganggu anak-anak yang usianya di bawah dua tahun serta ibu hamil. Jin ini pernah menemui Nabi Sulaiman as dan menjelaskan kepada beliau apa target utamanya.

Ia datang dengan ciri-ciri yang sangat menakutkan, terlebih saat melakukan aksinya pada saat magrib. Perempuan tua ini memiliki rambut beruban, dengan dua bola mata berwarna biru, kedua-dua keningnya bertanduk, betisnya kecil, rambut kusut, mulutnya menganga, mengeluarkan pucuk api, dan bisa memecahkan benda besar dengan pekikan suaranya.


Nabi Sulaiman kemudian bertanya pada jin tersebut;,

Siapa kamu? Apa kamu manusia atau jin? Karena aku tidak pernah melihat orang sepertimu.

Perempuan itu menjawab:

Akulah Ummu Sibyan (Ibu penyakit sawan) yang dapat menguasai ke atas anak Adam lelaki dan perempuan, aku bisa masuk ke rumah-rumah, bisa berkokok seperti ayam, menyalak seperti anjing, melenguh seperti lembu, bersuara seperti keledai dan kura-kura dan bersiul seperti ular.”

Si jin menjelaskan lagi, jika ia bisa bertukar wajah dan berubah sesuai dengan keinginannya. Kemudian, bisa mengikat rahim perempuan serta membunuh anak-anak yang masih ada di dalam rahim. Mereka masuk ke perut lalu menendang bayi yang masih di dalam rahim, hingga sang Ibu keguguran. Mereka juga mengganggu anak-anak kecil memberikan rasa panas dan kesakitan yang mengerikan.

Nabi Sulaiman menangkapnya dan berkata : “Wahai perempuan yang celaka! Kamu tidak boleh lari dari genggamanku sampai memberikan satu perjanjian dan sumpah setia kepada anak-anak Adam, lelaki dan perempuan”.

Dalam keseharian, mungkin kita sering melihat anak-anak yang menangis ketika maghrib tiba. Tidak hanya itu, mereka menjerit dengan mata terbelalak ke arah tertentu seperti melihat sesuatu. Tidak jarang, anak-anak juga demam tinggi hingga berakibat fatal yakni kematian.


Orang tua seharusnya mengikuti anjuran Nabi SAW ini. Menutup pintu ketika magrib, serta menggendong anak-anak mereka yang masih kecil. Pasalnya, gangguan dari jin Ummu Sibyan ini bisa menyebabkan penyakit bagi anak seperti sawan tangisan, autisme, kenakalan, dan berbagai komplikasi otak.

Karena itula pada waktu maghrib, kita dihimbau untuk berhati-hati dan tidak keluar rumah, menjauh dari hewan, seperti kucing, burung, dan mengurangi kecepatan saat mengemudi mobil karena dikuatirkan menabrak anjing atau hewan lain yang bisa jadi telah dirasuki setan, dan tidak boleh jalan jalan di tempat sepi atau duduk di tempat itu, atau melempar batu ke dalam kamar mandi, kebun dan laut.


INILAH DOSA JARIAH BESAR YANG TETAP MENGALIR MESKI SUDAH MENINGGAL

Sisa-Harimanusia-----Sebagian manusia bisa dengan mudah melakukan perbuatan dosa dalam kehidupan sehari-hari. Karena seringnya dilakukan, tindakan tersebut terkadang dianggap biasa sehingga tidak terasa seperti dosa. Padahal dosa bukanlah perkara main-main.

Balasannya mutlak neraka yang sudah disiapkan Allah SWT bagi hamba-Nya yang ingkar. Ternyata, setelah meninggal tanggungjawab terhadap dosa maksiat yang pernah dilakukan tidak terputus begitu saja, akan mengalir hingga hari perhitungan kelak.


Selama perbuatan maksiat tersebut masih berdampak dan berpengaruh kepada orang lain, maka dosanya akan tetap mengalir kepada pelakunya meski Ia sudah meninggal. Apa saja dosa-dosa tersebut? Berikut ulasannya.

Jika biasanya kita mengenal amal jariyah yang pahalanya mengalir meski sudah meninggal, maka ada juga dosa jariyah yang di janjikan Allah SWT akan diterima manusia. Saat sudah meninggal, seseorang akan tetap mendapatkan dosa karena perbuatannya semasa di dunia masih berpengaruh buruk terhadap orang lain.

Padahal di alam barzah manusia sangat membutuhkan limpahan pahala sebagai pertolongan mereka menunggu hari kiamat. Namun karena dosa jariyah ini mereka justru harus menanggung dosa-dosa yang dilakukan orang lain, akibat pengaruh atas tindakan maksiat yang pernah Ia lakukan semasa hidup.

“Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan. dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam kitab Induk yang nyata (Lauh Mahfuzh).” (QS. Yasin: 12)

Inilah dosa jariah besar yang tetap mengalir meski seseorang sudah meninggal dan berada di alam kuburnya.

1. Menjadi Pelopor Maksiat

Pelopor merupakan orang yang pertama melakukan suatu tindakan sehingga yang lain turut mengikuti. Pengikutnya bersedia meniru baik dengan paksaan maupun tanpa diminta sama sekali. Kondisi ini akan sangat bagus jika menjadi pelopor untuk tujuan yang baik. Namun bagaimana jika menjadi pelopor maksiat?

Dalam hadis dari Jarir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : "Siapa yang mempelopori satu kebiasaan yang buruk dalam islam, maka dia mendapatkan dosa keburukan itu, dan dosa setiap orang yang melakukan keburukan itu karena ulahnya, tanpa dikurangi sedikitpun dosa mereka.” (HR. Muslim).

Orang yang menjadi pelopor ini sama sekali tidak mengajak orang di lingkungannya untuk berbuat maksiat serupa. Ia juga tidak memberikan motivasi kepada orang lain untuk mengikutinya. Namun karena perbuatannya ini Ia berhasil menginsipirasi orang lain melakukan maksiat serupa.

Itulah mengapa anak Nabi Adam, Qabil, yang menjadi orang pertama yang membunuh manusia harus bertangungjawab atas semua kasus pembunuhan di alam ini. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Tidak ada satu jiwa yang terbunuh secara dzalim, melainkan anak adam yang pertama kali membunuh akan mendapatkan dosa karena pertumpahan darah itu.” (HR. Bukhari 3157, Muslim 4473 dan yang lainnya).

Tidak bisa dibayangkan, bagaimana dosa yang akan ditanggung pelopor dan pendesign rok mini, baju you can see, penyebar video porno dan masih banyak tindak maksiat lainnya. Sebagai pelopor dosa mereka akan terus mengalir hingga hari kiamat kelak. 


2. Mengajak Orang lain Melakukan Kesesatan dan Maksiat

Berbeda dengan pelopor yang hanya menginspirasi orang lain, orang yang satu ini dengan nyata mengajak orang lain untuk melakukan kesesatan dan tindakan maksiat. Merekalah merupakan juru dakwah kesesatan, atau mereka yang mempropagandakan kemaksiatan.

Dalam Alquran Allah SWT menceritakan bagaimana orang kafir kelak akan menerima dosa dari kekufurannya. Belum lagi dengan dosa-dosa orang-orang yang juga mereka sesatkan.

“Mereka akan memikul dosa-dosanya dengan penuh pada hari kiamat, dan berikut dosa-dosa orang yang mereka sesatkan yang tidak mengetahui sedikitpun (bahwa mereka disesatkan).”(QS. an-Nahl: 25)

Ayat ini memiliki makna yang sama dengan  hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Siapa yang mengajak kepada kesesatan, dia mendapatkan dosa, seperti dosa orang yang mengikutinya, tidak dikurangi sedikitpun.” (HR. Ahmad 9398, Muslim 6980, dan yang lainnya).

Contoh mudah terkait hadist ini adalah orang-orang yang menjadi propaganda kesesatan, mereka menyebarkan pemikiran-pemikiran yang menyimpang, mengajak masyarakat untuk berbuat kesyirikan dan bid’ah.

Merekalah para pemilik dosa jariyah, lantas bagaimana dosa mereka? Selama masih ada manusia yang mengikuti apa yang mereka serukan, maka selama itu pula orang ini turut mendapatkan limpahan dosa, sekalipun dia sudah dikubur tanah.

Termasuk juga mereka yang mengiklankan maksiat, memotivasi orang lain untuk berbuat dosa, sekalipun dia sendiri tidak melakukannya, namun dia tetap mendapatkan dosa dari setiap orang yang mengikutinya.

Semoga kita lebih berhati-hati dalam bertindak, dan lebih banyak melakukan amal shaleh dibanding dosa-dosa maksiat. Karena hidup tidak hanya semata di dunia lalu selesai ketika sudah meninggal. Namun perjalanan masih panjang untuk menuju kehidupan yang kekal.

INILAH ADAB MEMBACA AL-QUR'AN YANG WAJIB KITA KETAHUI





Adab Membaca Al-Quran - Al-Qur’anul Kariim adalah firman Allah SWT yang menjadikannya sebagai pedoman umat manusia dan mengajarkan, menuntun kepada petunjuk untuk mendapatkan kebaikan, keberkahan dan keselamatan baik di dunia maupun di akhirat. Seseorang yang membaca, mempelajari, memahami dan mengamalkan Al-Quran dijanjikan Allah SWT syurga yang indah, kecukupan dalam hidupnya, kemurahan rezeki, pahala, meleburkan dosa serta dikabulkannya segala pinta dan doa yang diharapkannya. Selain itu Allah SWT menggolongkan dirinya bersama orang-orang mu’min yang mendapatkan Rahmat dan Syafa’atNya ketika hari kiamat nanti.

Sebagaimana sabda Rasulullah SAW yang berbunyi ” Sebaik-baiknya kamu adalah orang yang membaca dan mempelajari Al-Quran dan mengajarkannya “. (HR.Bukhari)

Ada beberapa cara adab atau perilaku ketika seorang muslim membaca Al-Quran agar mendapatkan kesempurnaan dan mampu memahami serta meresap apa saja makna yang terkandung dalam tiap ayat Al-Quran :

1. Membersihkan mulut dan menggosok gigi terlebih dahulu dengan siwak

Dengan tujuan agar ketika membaca Al-Quran, mulut terasa segar dan wangi dan membaca pun dapat dilakukan enak dan tenang.

2. Mensucikan diri dengan wudhu terlebih dahulu

Berwudhu sebelum menyentuh dan membaca Al-Quran merupakan perilaku penting agar diri ini dalam keadaan suci terhindar dari hadas kecil maupun hadas besar. Karena Al-Quran merupakan Kitab suci yang harus dijaga kebersihan dan kesuciannya, seperti yang dikatakan oleh shahih Imam Haromain berkata ” Orang yang membaca Al-Quran dalam keadaan najis, dia tidak dikatakan mengerjakan hal yang makruh, namun dia telah meninggalkan sesuatu yang utama”.(At-Tibyan, hal. 58-59)

3. Membaca dengan suara yang lembut, pelan (tartil), tidak terlalu cepat agar dapat memahami tiap ayat yang dibaca
Rasulullah SAW dalam sabda mengatakan “Siapa saja yang membaca Al-Quran sampai selesai (Khatam) kurang dari 3 hari, berarti dia tidak memahami”. (HR. Ahmad dan para penyusun kitab-kitab Sunan)

Bahkan sebagian dari para Sahabat Rasulullah membenci pengkhataman Al-Quran sehari semalam, dengan berdasarkan hadits diatas. Rasulullah SAW sendiri menyuruh sahabatnya untuk mengkhatamkan Al-Quran setiap 1 minggu (7 hari) (HR. Bukhori dan Muslim) begitu pula yang dilakukan oleh Abdiullah Mas’ud, Utsman bin Affan, Zaid bin Tsabit mereka mengkhatamkan Al-Quran seminggu sekali.

5. Membaca Al-Qur’an dengan khusyu’, penuh penghayatan, dengan hati yang ikhlas, mampu menyentuh jiwa dan perasaan bila perlu hingga menangis

Allah SWT menerangkan pada sebagian dari sifat-sifat hambaNya yang shalih adalah “Dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertamba khusyu”. ( QS.Al Isra :109 ). Teteapi tidak demikian bagi seorang hambaKu dengan pura-pura menangis dengan tangisan yang dibuat-buat.

6. Membaguskan suara ketika membaca Al-Quran
Dalam sabda Rasulullah SAW yang berbunyi “Hiasilah Al-Quran dengan suaramu.”(HR. Ahmad, Ibnu Majah dan Al-Hakim). Di dalam hadits lain dijelaskan, “Tidak termasuk umatku orang yang tidak melagukan Al-Qur’an.” (HR. Bukhari dan Muslim). Dalam pengertian dari hadits tersebut adalah membaca Al-Quran dengan baik dan benar mengerti makhroj (tanda baca), harakat ( panjang pendeknya bacaan), mengerti tajwid dsb. Sehingga tidak melewatkan hukum dan ketentuan dari membaca Al-Quran, bila sudah cukup mengerti lantunan dari tiap-tiap ayat yang dibacakan agar terdengar indah dan menyentuh Qolbu.

7. Membaca Al-Qur’an dimulai dengan isti’adzah.

Dalam firman Allah SWT yang artinya, “Dan bila kamu akan membaca Al-Qur’an, maka mintalah perlindungan kepada Alloh dari (godaan-godaan) syaithan yang terkutuk.” (QS. An-Nahl: 98)

Dengan maksud membaca membaca Al-Quran dengan suara yang lirih dan khusyu’ sehingga tak perlu mengganggu orang yang sedang melakukan shalat dan tidak menimbulkan sifat Riya’. Bahkan dalam sebuah Hadist Rosululloh shollallohu ‘alaihiwasallam bersabda, “Ingatlah bahwasannya setiap dari kalian bermunajat kepada Rabbnya, maka janganlah salah satu dari kamu mengganggu yang lain, dan salah satu dari kamu tidak boleh bersuara lebih keras daripada yang lain pada saat membaca (Al-Qur’an).” (HR. Abu Dawud, Nasa’i, Baihaqi dan Hakim).


Sumber: http://belajarmembacaalquran.com/adab-membaca-al-quran/

INILAH YANG HARUS DILAKUKAN SUAMI MENURUT RASULULLAH SAW. KETIKA ISTRI HAID

Bermesraan antara suami istri menurut Islam merupakan muamalah. Berikut inilah keterangan-keterangan dari Rasulullah saw. tentang muamalah suami istri saat sang istri haid.

Dalam Shahing Bukhari juz I kitab al-Haid, banyak diveritakan sikap dan perilaku Nabi terhadap istri-istrinya saat mereka haid. Pada uatu ketika bertuturlah Aisyah, istri Nabi yang paling muda dinikahi:

     "Aku menyisir rambut Rasulullah saw. saat aku haid,"

Ketika Rasulullah saw. beri'tikaf di masjid, Aisyah juga senantiasa menyisir rapi rambut Rasulullah dari dalam kamarnya sendiri. Memang kamarnya Aisyah bersebelahan dengan masjid dan amat dekat sekali. Rasulullah tinggal mengeluarkan kepalanya, dan Aisyah nongol dari jendela, terus menyisir rambur Rasulullah saw.

     "Rasulullah saw. pernah bersandar di pangkuanku, kata Aisyah di lain waktu, sementara aku sedang haid dan beliau sambil membaca Al-Qur'an."


Kita lihat bagaimana Rasulullah saw. bermesraan dengan istrinya, padahal ia sedang haid. Islam memang mengajarkan kelembutan dan kehalusan sikap dalam berumah tangga. JIka istri sedang haid, sang suami tidak boleh menelantarkannya, apalagi menyianyakannya.

Kita simak terus akhlak Rasulullah terhadap istri-istrinya saat mereka haid.

Ummu Salamah, istri Rasulullah yang lain, mengisahkan pula bagaimana kelembutan suaminya terhadap dirinya saat ia sedang haid. Katanya: "Ketika aku tiduran bersama Nabi dalam satu kain, tiba-tiba aku haid. Aku pun pergi diam-diam mengambil baju haidku. Ketika itu Rasulullah bertanya: Apa dinda haid? Ya, jawabku. Tak kusangka beliau memanggilku, lalu aku tiduran lagi bersamanya dalam satu selimut."

Menurut Maemunah, isteri Rasulullah yang lain lagi, apabila Rasulullah saw. hendak bermesraan dengan istrinya saat ia haid, maka beliau memerintahkan istrinya agar memakai sarung. Oleh Rasulullah saw. dimaksudkan agar darah haidnya tidak tembus keluar, lalu menempel ke pakaian Rasulullah saw.. Juga mungkin agar tidak bersentuhan langsung tubuhnya dengan tubuh Rasulullah saw., hingga gairah berhubungan suami istri tetap aman terkendali.


Itulah sebagian kecil nikmatnya kita beragama Islam. Aturan membumi dan syari'atnya manusiawi. Tapi ingat, sesudah Allah swt. Banyak memberikan karunianya-Nya, kita tidak boleh mengingkariny-Nya. Tidak pula kita meremehkan syari'atnya. Misalnya, tentu Anda sudah tahu bahwa berhubungan suami istri di siang hari Ramadhan adalah haram. Kaffaratnya juga berat. Siapa yang melakukannya ia berdosa.

Demikian pula berkenaan dengan larangan mengumpuli istri yang sedang haid. Suami dan istri sama-sama berdosa. Keduanya harus bertaubat dan mengeluarkan shadaqah. Meski tidak seberat berhubungan suami istri saat Ramadhan, namun dosa adalah dosa dan bisa membawa pelaku ke neraka Na'udzubillah.

Demikianlah tentang hubungan kemesraan suami istri dan apa yang harus dilakukan oleh seorang suami ketika istrinya sedang haid. semoga bermanfaat. terimakasih.

* * *

INILAH 10 PINTU-PINTU MASUK SETAN KE DALAM HATI MANUSIA

Sisa-harimanusia---Seperti yang disebutkan bahwa hati manusia itu diibaratkan benteng, sementara setan ibarat musuh yang ingim menembus masuk ke dalam benteng, lalu memiliki dan menguasainya. Benteng tidak akan dapat diselamatkan dari serangan musuh kecuali dengan mengadakan penjagaan pada pintu-pintunya, menutup rapat-rapat setiap celah yang memungkinkan dijadikan jalan masuk bagi musuh. Jika seseorang tidak mengetahui pintu-pintu itu, maka ia tidak mungkin dapat melindunginya dengan baik.

Memelihara dan menjaga hati dari godaan setan itu wajib hukumnya, bagi setiap hamba yang sudah mukalaf. Sesuatu yang menjadi sarana terlaksananya sesuatu yang wajib, maka wajib pula hukumnya. Seseorang tidak akan dapat menangkal setan menerobos masuk ke dalam hati, kecuali dengan mengetahui telebih dahulu pintu-pintu masuk yang akan dilaluinya, sehingga mengetahui jalan masuk setan ke dalam hati, hukumnya menjadi wajib pula.

Jalan-jalan setan dan pintu-pintu masuknya ke dalam hati itu adalah sifat-sifat yang melekat pada manusia yang jumlahnya begitu banyak. Tetapi kami akan menunjuk pada pintu-pintu besar yang tidak akan membuat setan berdesak-desakan masuk ke dalamnya betapapun besar jumlah setan dan bala tentaranya yang akan melaluinya.

Berikut ini adalah 10 sepuluh Di antara pintu-pintu setan yang besar itu, ialah:

1. Amarah
Amarah merupakan jalan besar bagi masuknya setan ke dalam hati. Karena ketika terjadi amarah akal menjadi tidak berfungsi dengan baik. Jika tentara akal lemah, tentu sangat mudah bagi tentara setan untuk melakukan serangan dan menguasai hati manusia.

2. Menurutkan nafsu Syahwat
Syahwat juga merupakan jalan besar bagi masuknya setan ke dalam hati. Karena ketika terjadi  nafsu Syahwat dan kita selalu menurutkannya, akal menjadi tidak berfungsi dengan baik. Jika tentara akal lemah, tentu sangat mudah bagi tentara setan untuk melakukan serangan dan menguasai hati manusia.

3. Dengki dan rakus
Diantara pintu-pintu besar setan yang lain adalah dengki dan rakus. Ketika seorang hamba terhadap suatu apapun, maka kerakusan akan menjadikannya buta dan tuli, sehingga setan mudah masuk dan menggodanya.

4. Makan kekenyangan
Diantara pintu-pintu besar setan yang lain juga adalah makan sampai kenyang, sekalipun apa yang ia makan itu makanan yang halal dan bersih. Karena kekenyangan akan memperkuat syahwat padahal syahwat itu adalah sejatan setan.

5. Gemar Menghias Pakaian, Rumah dan Prabotannya
Diantara pintu-pintu besar setan yang lain adalah senang terhadap urusan hias-menghias perabot rumah tangga, pakaian dan rumah. Adalah setan jika setan melihat semua itu, ia akan menguasai hati manusia, bertelur dan menetas di sana. Ia selalu mengajak seseorang untuk membangun rumah, menghiasi atapnya, dindingnya serta memperluas bangunannya. Setan juga selalu mendorong seseorang untuk berhias dan unjuk gaya dengan pakaian yang indah, aksesoris yang wah dan kendaraan yang bagus. Sehingga ia akan bergelimang dalam kondisi yang seperti itu sepanjang hidupnya.

6. Rakus kecintaan, Kekaguman dan Mengkultuskan Individual seseorang
Diantara pintu-pintu besar setan yang lain adalah tamak kepada manusia - ketamakan dimaksud bisa terjadi karena cinta, kagum, ingin mendapatkan sesuatu dari yang dicintai atau dikagumi, misalnya; ketika ketamakan telah menguasai hatinya, maka setan akan selalu berupaya memoles dan menghiasi dirinya dengan berbagai macam riya' dan sikap dan gaya hidup yang dibuat-buat penuh kepalsuan di hadapan orang yang ditamaki (dicintai dan dikagumi tersebut). Sehingga orang yang ditamaki itu, seolah-olah menjadi sesembahannya.
 
7. Tergesa-gesa dan Tidak Konsisten
Diantara pintu-pintu besar bagi masuknya setan kedalam hati manusia adalah  ketergesa-gesaan dan tidak konsisten dengan suatu perkara. Rasulullah saw. pernah bersabda;
Artinya; "Tergesa-gesa itu dari setan, sedangkan kehati-hatian itu dari Allah Ta'ala."
Seyogyanya setiap pekerjaan itu dilakukan setelah dicermati dan dipertimbangkan terlebih dahulu. Sementara pencermatan memerlukan perenungan dan ketelitian, sedangkan ketergesa-gesaan mencegah yang demikian itu. Ketika seseorang tergesa-gesa, maka setan menyusupkan kejahatan kepadanya tanpa diketahuinya.
 
8. Kecintaan Pada Dirham, Dinas dan Berbagai Jenis Harta Benda Lainnya
Pintu besar yang lain bagi setan untuk masuk dan menguasai hati manusia adalah dirham, dinar dan semua jenis harta benda yang berupa hewan piaraan, sawah ladang dan lainnya. Setiap kelebihan dari kadar makanan dan kebutuhan pokok lainnya, adalah menjadi tempat bersarangnya setan.

9. Kikir dan Takut Miskin
Sifat kikir dan takut miskin inilah yang menghalangi berinfak dan bersedekah. Kedua sifat itulah yang mendorong seseorang untuk menimbun dan menumpuk-numpuk harta benda. Dengan sikap yang demikian itu, pada hakekatnya justru mengundang siksaan yang sangat pedih yang dijanjikan bagi orang-orang yang suka menumpuk harta.

10.Fanatik Bermadzhab, Hawa Nafsu dan Dendam dalam Permusuhan.
Diantara pintu-pintu masuk setan yang lain lagi ialah tawashul; fanatik bermadzhab, hawa nafsu, dendam dan permusuhan, memandang musuh-musuhnya dengan pandangan yang rendah dan hina. Semua itu termasuk di antara hal-hal yang dapat membuat manusia rusak dan fasek.

Demikian keadaan hati manusia dalam kaitannya dengan pintu-pintu masuk setan ke dalamnya, semoga kita selalu terhindar dari yang demikian itu. Waallaahu a'lam bis-shawaab.

MENGETAHUI DAN MEMAHAMI TENTANG HATI (AL-QALB)

Sisa-Harimanusia---Ketahuilah bahwa pengertian dan nama dari Hati (Al-Qalb) banyak yang memiliki pemahaman dan pengetahuan yang berbeda. Sehingga terjadi beberapa kesalahan dan kekeliruan yang sering terjadi seringkali diakibatkan ketidak pengertian mereka terhadap istilah tersebut, karena di samping memiliki persamaan, dalam banyak hal juga memiliki perbedaan. Apa sebenarnya hati itu ? dalam banyak perdebatan Tasawup orang awam sering dihubungkan-hubungkan dengan ruh, benarkah demikian?. Nah pembahasan berikut ini semoga dapat menambah pengetahuan dan pemahaman kita tentang hati tersebut.

Dalam banyak literatur di jelaskan Lafal al-Qalb (hati) memiliki dua makna, yaitu :

Pertama: Daging yang berbentuk sanuba yang terletak di sisi kiri dada. Dalam bentuknya yang khas di tengahnya diging ini terdapat rongga yang berisi darah hitam yang menjadi sumber ruh dan kehidupan. Namun bukan menjadi tujuan kita membahasa bentuk dan bagaimananya daging tersebut secara lahir dalam pembahasan ini. Karena dalam konteks ini tidak berkaitan dengan tujuan keagamaan tetapi menjadi tujuan obyek kajian para dokter. Karena hati dalam bentuknya semacam ini terdapat juga pada organ tubuh binatang, bahkan juga terdapat pada mayit.

Oleh karena itu, ketika kita menyebut istilah al-qalb dalam pasal ini, yang kita maksud bukanlah orang hati yang hanya berbentuk septong daging yang tidak berharga. Hati yang merupakan organ tubuh yang berbentuk sepotong daging itu dapat diraba dan dilihat oleh idera manusia bahkan dapat pula dilihat oleh binatang.

Kedua, Sesuatu (rohani) yang sangat halus dan bersifat rabbani. Hati dalam arti sesuatu yang sangat halus (lathifah) ini, memiliki hubungan dengan hati yang bersifat jasmani. Hati dalam arti kedua inilah merupakan hakekat dan jati diri manusia. Hati dalam arti inilah yang bisa mengetahui, mengenal serta mengerti sesuatu. Dan dialah yang menjadi sasaran lawan bicara (yang terbebani hukum-hukum syari'at) yang dikenal sangsi, celaan dan yang dituntut tanggung jawabnya. Hati dalam arti ini memiliki hubungan dengan hati yang menjadi organ tubuh jasmani. Namun hubungan antara keduanya sulit diketahui dan cukup membingungkan akal kebanyakan manusia. Karena keterkaitan hubungan itu lebih luas daripada sekedar hubungan kebendaan (jasmaniah), antara sifat dan yang disifati, antara pengguna alat dengan alat itu sendiri dan lebih luas daripada hubungan antara tempat dengan yang menempati itu.


Pembahasan mengenai hal tersebut secara mendalam, kita coba untuk menghindarinya, karena dua alasan, yaitu :

Pertama: Pembahasan mengenai hal itu secara terperinci dan mendalam berhubungan erat dengan ilmu mukasyafa (terbukanya suatu tabir hati, sehingga perkara yang gaib menjadi terlihat jelas olehnya), sementara hal demikian bukan menjadi pokok bahasan kita dalam tulisan ini. Karena yang menjadi obyek utama bahasan kami dalam pasal ini adalah yang terkait dengan ilmu-ilmu mu'amalah.

Kedua: Pembahasan hal tersebut secara mendalam akan memasuki wilayah pembahasan rahasia ruh dan mengenai yang terakhir inipun, tidak pernah dibahas oleh Rasulullah saw. - Hadis yang menyatakan bahwa Rasulullah saw. tidak pernah membicarakan rahasia ruh dan esensinya diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim (muttafaq 'alaih), dari Ibnu Mas'ud terkait dengan pertanyaan orang Yahudi kepada Nabi saw. mengenai ruh. Mendapat pertanyaan itu Nabi lebih memilih diam tidak memberikan jawaban atas pertanyaan mereka hingga turun ayat sebagai berkut:

Artinya:
"Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah: "Ruh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kami diberi pengetahuan melainkan sedikit."   (QS. Al Isra' : 85).

Maka, yang selain beliu juga tidak patut membicarakaannya lebih jauh, apa lagi dengan pembicaraan yang tidak ada dasar dan landasannya. 

Jadi, yang dimaksud, ketika kita menyebut istilah al-qalb dalam pembahasan ini yang di maksud adalah sesuatu yang sangat halus (al-lathifah) yang bersifat rohaniah, sebagaimana telah dijelaskan di atas. Kami bermaksud hanya menyebut sifat-sifatnya dan berbagai kondisinya, bukan mengenai hakekat zatnya. Dan inilah yang kami maksudkan dengan ilmu mu'malah tersebut. Yang diperlukan dalam ilmu mu'amalah hanyalah pengetahui sifat-sifat dan berbagai ihwalnya, bukan mengenai esensi dan hakekat zatnya. 

SYARAT WAJIB DAN CARA MENGELUARKAN ZAKAT

Syarat Wajib dan Cara Mengeluarkan Zakat

Oleh
Ustadz Kholid Syamhudi Lc

PENGANTAR
Salah satu rukun Islam yang harus diamalkan seorang muslim, ialah menunaikan zakat. Keyakinan ini didasari perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam Al Quran dan Sunnah. Bahkan hal ini sudah menjadi konsensus (ijma’) yang tidak boleh dilanggar.

Adapun dalil dari Al Qur’an, diantaranya firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا

“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka. Dengan zakat itu, kamu membersihkan dan mensucikan mereka”. [At Taubah :103].

Dan firmanNya:

وَأَقِيمُوا الصَّلاَةَ وَءَاتُوا الزَّكَاةَ

“Dan tegakkanlah shalat dan tunaikanlah zakat”. [Al Baqarah:110].

Kemudian dalil dari Sunnah, yaitu hadits yang diriwayatkan oleh Al Bukhari dan Muslim dari Ibnu Abbas, bahwa ia berkata,

إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حِينَ بَعَثَ ِمُعَاذَ بْنَ جَبَلٍ إِلَى الْيَمَنِ قَالَ إِنَّكَ سَتَأْتِي قَوْمًا أَهْلَ كِتَابٍ فَإِذَا جِئْتَهُمْ فَادْعُهُمْ إِلَى أَنْ يَشْهَدُوا أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ فَإِنْ هُمْ أَطَاعُوا لَكَ بِذَلِكَ فَأَخْبِرْهُمْ أَنَّ اللَّهَ قَدْ فَرَضَ عَلَيْهِمْ خَمْسَ صَلَوَاتٍ فِي كُلِّ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ فَإِنْ هُمْ أَطَاعُوا لَكَ بِذَلِكَ فَأَخْبِرْهُمْ أَنَّ اللَّهَ قَدْ فَرَضَ عَلَيْهِمْ صَدَقَةً تُؤْخَذُ مِنْ أَغْنِيَائِهِمْ فَتُرَدُّ عَلَى فُقَرَائِهِمْ فَإِنْ هُمْ أَطَاعُوا لَكَ بِذَلِكَ فَإِيَّاكَ وَكَرَائِمَ أَمْوَالِهِمْ وَاتَّقِ دَعْوَةَ الْمَظْلُومِ فَإِنَّهُ لَيْسَ بَيْنَهُ وَبَيْنَ اللَّهِ حِجَابٌ

“Sesungguhnya ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus Muadz bin Jabal ke Yaman, (beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam) berkata, “Sesungguhnya engkau akan mendatangi suatu kaum dari Ahli Kitab. Karena itu, jika engkau menjumpai mereka, serulah mereka kepada syahadat, tidak ada yang berhak disembah dengan haq, kecuali Allah dan Muhammad adalah utusan Allah. Jika mereka mentaati engkau dalam hal itu, maka ajarilah mereka, bahwa Allah telah mewajibkan atas mereka shalat lima waktu dalam sehari- semalam. Jika mereka telah mentaatimu dalam hal tersebut, maka ajarilah mereka, bahwa Allah telah mewajibkan atas mereka shadaqah atas harta mereka, yang diambil dari orang-orang kaya mereka dan dibagi-bagikan kepada para faqir miskin dari mereka. Jika mereka telah mentaatimu dalam hal tersebut, maka berhati-hatilah terhadap harta-harta kesayangan mereka dan bertaqwalah dari doa-doa orang yang dizhalimi, karena tidak ada penghalang darinya dengan Allah”.[1]

Sedangkan dalil dari ijma’, kaum muslimin telah bersepakat atas kewajibannya, sebagaimana telah dinukilkan oleh Ibnu Qudamah [2] dan Ibnu Rusyd [3].

Kewajiban ini, tentunya memiliki syarat dan cara yang harus diperhatikan kaum muslimin, sehingga dapat menunaikan kewajibannya membayar zakat dengan benar dan tepat.

PERSYARATAN KEWAJIBAN MENGELUARKAN ZAKAT
Syarat-syarat wajibnya mengeluarkan zakat adalah sebagai berikut:

1. Islam.
Islam menjadi syarat kewajiban mengeluarkan zakat dengan dalil hadits Ibnu Abbas di atas. Hadits ini mengemukakan kewajiban zakat, setelah mereka menerima dua kalimat syahadat dan kewajiban shalat. Hal ini tentunya menunjukkan, bahwa orang yang belum menerima Islam tidak berkewajiban mengeluarkan zakat [4]

2. Merdeka.
Tidak diwajibkan zakat pada budak sahaya (orang yang tidak merdeka) atas harta yang dimilikinya, karena kepemilikannya tidak sempurna. Demikian juga budak yang sedang dalam perjanjian pembebasan (al mukatib), tidak diwajibkan menunaikan zakat dari hartanya, karena berhubungan dengan kebutuhan membebaskan dirinya dari perbudakan. Kebutuhannya ini lebih mendesak dari orang merdeka yang bangkrut (gharim), sehingga sangat pantas sekali tidak diwajibkan [5].

3. Berakal Dan Baligh.
Dalam hal ini masih diperselisihkan, yaitu berkaitan dengan permasalahan zakat harta anak kecil dan orang gila. Yang rajih (kuat), anak kecil dan orang gila tidak diwajibkan mengeluarkan zakat. Akan tetapi kepada wali yang mengelola hartanya, diwajibkan untuk mengeluarkan zakatnya, karena kewajiban zakat berhubungan dengan hartanya [6].

4. Memiliki Nishab.
Makna nishab disini, ialah ukuran atau batas terendah yang telah ditetapkan oleh syar’i (agama) untuk menjadi pedoman menentukan batas kewajiban mengeluarkan zakat bagi yang memilikinya, jika telah sampai pada ukuran tersebut [7]. Orang yang memiliki harta dan telah mencapai nishab atau lebih, diwajibkan mengeluarkan zakat dengan dasar firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

وَيَسْئَلُونَكَ مَاذَا يُنفِقُونَ قُلِ الْعَفْوَ كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللهُ لَكُمُ اْلأَيَاتِ لَعَلَّكُمْ تَتَفَكَّرُونَ

“Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: “Yang lebih dari keperluan.” Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayatNya kepadamu supaya kamu berfikir”. [Al Baqarah:219].

Makna al afwu adalah harta yang telah melebihi kebutuhan. Oleh karena itu, Islam menetapkan nishab sebagai ukuran kekayaan seseorang. [8]

SYARAT-SYARAT NISHAB
Adapun syarat-syarat nishab ialah sebagai berikut:

1. Harta tersebut diluar kebutuhan yang harus dipenuhi oleh seseorang, seperti: makanan, pakaian, tempat tinggal, kendaraan, dan alat yang dipergunakan untuk mata pencaharian.

2. Harta yang akan dizakati telah berjalan selama satu tahun (haul) terhitung dari hari kepemilikan nishab [9] dengan dalil hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

لاَ زَكَاةَ فِيْ مَالٍ حَتَّى يَحُوْلَ عَلَيْهِ الْحَوْلُ

“Tidak ada zakat atas harta, kecuali yang telah melampaui satu haul (satu tahun)” [10].

Dikecualikan dari hal ini, yaitu zakat pertanian dan buah-buahan. Karena zakat pertanian dan buah-buahan diambil ketika panen. Demikian juga zakat harta karun, yang diambil ketika menemukannya.

Misalnya, jika seorang muslim memiliki 35 ekor kambing, maka ia tidak diwajibkan berzakat karena nishab bagi kambing itu 40 ekor. Kemudian jika kambing-kambing tersebut berkembang biak sehingga mencapai 40 ekor, maka kita mulai menghitung satu tahun setelah sempurna nishab tersebut [11].

NISHAB, UKURAN DAN CARA MENGELUARKAN ZAKATNYA.
1. Nishab Emas Dan Ukuran Zakatnya.
Adapun nishab emas sebanyak 20 dinar. Dinar yang dimaksud ialah dinar Islam. Ukuran satu dinar setara dengan 4,25 gram emas. Jadi 20 dinar itu setara dengan 85 gram emas murni. Demikian ini yang telah ditetapkan oleh Syaikh Muhammad Al Utsaimin [12] dan Yusuf Qardhawi [13].

Dalil nishab ini ialah hadits Ali bin Abi Thalib, beliau berkata: Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

وَلَيْسَ عَلَيْكَ شَيْءٌ يَعْنِي فِي الذَّهَبِ حَتَّى يَكُونَ لَكَ عِشْرُونَ دِينَارًا فَإِذَا كَانَ لَكَ عِشْرُونَ دِينَارًا وَحَالَ عَلَيْهَا الْحَوْلُ فَفِيهَا نِصْفُ دِينَارٍ فَمَا زَادَ فَبِحِسَابِ ذَلِكَ وَلَيْسَ فِي مَالٍ زَكَاةٌ حَتَّى يَحُولَ

“Tidak ada kewajiban atas kamu sesuatupun – yaitu dalam emas- sampai memiliki 20 dinar. Jika telah memiliki 20 dinar dan telah berlalu satu haul, maka terdapat padanya (zakat) 1/2 dinar. Selebihnya dihitung sesuai dengan hal itu, dan tidak ada di harta zakat, kecuali setelah satu haul” [14].

Kemudian dari nishab tersebut diambil 2,5 % atau 1/40. Dan kalau lebih dari nishab dan belum sampai pada ukuran kelipatannya, maka diambil dan diikutkan dengan nishab yang awal. Demikian menurut pendapat yang rajih (kuat).
Misalnya : seseorang memiliki 87 gram emas yang disimpan maka jika telah sampai haulnya maka wajib atasnya untuk mengeluarkan zakatnya 87/40 = 2,175 gram atau uang seharga tersebut.

2. Nishab Perak Dan Ukuran Zakatnya.
Adapun nishab perak adalah 200 dirham. Setara dengan 595 gram, sebagaimana hitungan Syaikh Muhammad Shalih Al Utsaimin dalam Syarhul Mumti’ 6/104 dan diambil darinya 2,5% dengan perhitungan sama dengan emas.

3. Nishab Binatang Ternak Dan Ukuran Zakatnya.
Adapun syarat wajib zakat pada binatang ternak sama dengan di atas dan ditambah satu syarat, yaitu binatangnya digembalakan dipadang rumput yang mubah daripada dicarikan makanan.

وَفِي صَدَقَةِ الْغَنَمِ فِي سَائِمَتِهَا إِذَا كَانَتْ أَرْبَعِينَ إِلَى عِشْرِينَ وَمِائَةٍ شَاةٌ…..

“Dan dalam zakat kambing yang digembalakan diluar; kalau sampai 40 ekor sampai 120 ekor …” [15]

Sedangkan ukuran nishab dan yang dikeluarkan zakatnya ialah sebagai berikut:

1. ONTA.
Nishab onta ialah 5 ekor. Perhitungan selengkapnya sebagai berikut:

JUMLAH ONTA JUMLAH YANG DIKELUARKAN
5 – 9 ekor——>Satu ekor kambing
10 – 14 ekor –>Dua ekor kambing
15 – 19 ekor—>Tiga ekor kambing
20 – 24 ekor—>Empat ekor kambing
25 – 35 ekor –>Satu ekor bintu makhad
36 – 45 ekor—>Satu ekor bintu labun
46 – 60 ekor—>Satu ekor hiqqah
61 – 75 ekor—>Satu ekor jadzah
76 – 90 ekor—>Dua ekor bintu labun
91 – 120 ekor ->Dua ekor hiqqah
121 ekor ——>Tiga ekor bintu labun
130 ekor ——>Satu ekor hiqqah dan dua ekor bintu labun
140 ekor ——>Dua ekor hiqqah dan dua ekor bintu labun
150 ekor ——>Tiga ekor hiqqah
160 ekor ——>Empat ekor bintu labun
170 ekor ——>Satu ekor hiqqah dan tiga ekor bintu labun
180 ekor ——>Dua ekor hiqqah dan dua ekor bintu labun

Keterangan :
1. Bintu makhad ialah onta yang telah berusia satu tahun.
2. Bintu labun ialah onta yang berusia dua tahun.
3. Hiqqah ialah onta yang telah berusia tiga tahun.
4. Jadzah ialah onta yang berusia empat tahun.

2. SAPI.
Nishab sapi ialah 30 ekor. Apabila kurang dari 30 ekor, maka tidak ada zakatnya. Cara penghitungan sebagai berikut.

JUMLAH SAPI JUMLAH YANG DI KELUARKAN
30 – 39 ekor–>Satu ekor tabi’ atau tabi’ah
40 – 59 ekor–>Satu ekor musinah
60 ekor ——–>Dua ekor tabi’ atau dua ekor tabi’ah
70 ekor ——–>Satu ekor tabi’ dan satu ekor musinnah
80 ekor ——–>Dua ekor musinnah
90 ekor ——–>Tiga ekor tabi’
100 ekor ——>Dua ekor tabi’ dan satu ekor musinnah.

Keterangan :
1. Tabi’ dan tabi’ah ialah sapi jantan dan betina yang berusia setahun.
2. Musinnah ialah sapi betina yang berusia dua tahun.
3. Setiap 30 ekor sapi zakatnya ialah satu ekor tabi’ dan setiap 40 ekor sapi, zakatnya ialah satu ekor musinnah.

3. KAMBING
Nishab kambing ialah 40 ekor. Perhitungannya sebagai berikut:

JUMLAH KAMBING JUMLAH YANG DIKELUARKAN
40 ekor —————>Satu ekor kambing
120 ekor ————->Dua ekor kambing.
201 – 300 ekor —–>Tiga ekor kambing.
Lebih dari 300 ekor->Setiap 101 ekor kambing.

Dalil perhitungan nishab zakat binatang ternak.

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
هَذِهِ فَرِيضَةُ الصَّدَقَةِ الَّتِي فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى الْمُسْلِمِينَ وَالَّتِي أَمَرَ اللَّهُ بِهَا رَسُولَهُ فَمَنْ سُئِلَهَا مِنْ الْمُسْلِمِينَ عَلَى وَجْهِهَا فَلْيُعْطِهَا وَمَنْ سُئِلَ فَوْقَهَا فَلَا يُعْطِ فِي أَرْبَعٍ وَعِشْرِينَ مِنْ الْإِبِلِ فَمَا دُونَهَا مِنْ الْغَنَمِ مِنْ كُلِّ خَمْسٍ شَاةٌ إِذَا بَلَغَتْ خَمْسًا وَعِشْرِينَ إِلَى خَمْسٍ وَثَلَاثِينَ فَفِيهَا بِنْتُ مَخَاضٍ أُنْثَى فَإِذَا بَلَغَتْ سِتًّا وَثَلَاثِينَ إِلَى خَمْسٍ وَأَرْبَعِينَ فَفِيهَا بِنْتُ لَبُونٍ أُنْثَى فَإِذَا بَلَغَتْ سِتًّا وَأَرْبَعِينَ إِلَى سِتِّينَ فَفِيهَا حِقَّةٌ طَرُوقَةُ الْجَمَلِ فَإِذَا بَلَغَتْ وَاحِدَةً وَسِتِّينَ إِلَى خَمْسٍ وَسَبْعِينَ فَفِيهَا جَذَعَةٌ فَإِذَا بَلَغَتْ يَعْنِي سِتًّا وَسَبْعِينَ إِلَى تِسْعِينَ فَفِيهَا بِنْتَا لَبُونٍ فَإِذَا بَلَغَتْ إِحْدَى وَتِسْعِينَ إِلَى عِشْرِينَ وَمِائَةٍ فَفِيهَا حِقَّتَانِ طَرُوقَتَا الْجَمَلِ فَإِذَا زَادَتْ عَلَى عِشْرِينَ وَمِائَةٍ فَفِي كُلِّ أَرْبَعِينَ بِنْتُ لَبُونٍ وَفِي كُلِّ خَمْسِينَ حِقَّةٌ وَمَنْ لَمْ يَكُنْ مَعَهُ إِلَّا أَرْبَعٌ مِنْ الْإِبِلِ فَلَيْسَ فِيهَا صَدَقَةٌ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ رَبُّهَا فَإِذَا بَلَغَتْ خَمْسًا مِنْ الْإِبِلِ فَفِيهَا شَاةٌ وَفِي صَدَقَةِ الْغَنَمِ فِي سَائِمَتِهَا إِذَا كَانَتْ أَرْبَعِينَ إِلَى عِشْرِينَ وَمِائَةٍ شَاةٌ فَإِذَا زَادَتْ عَلَى عِشْرِينَ وَمِائَةٍ إِلَى مِائَتَيْنِ شَاتَانِ فَإِذَا زَادَتْ عَلَى مِائَتَيْنِ إِلَى ثَلَاثِ مِائَةٍ فَفِيهَا ثَلَاثُ شِيَاهٍ فَإِذَا زَادَتْ عَلَى ثَلَاثِ مِائَةٍ فَفِي كُلِّ مِائَةٍ شَاةٌ فَإِذَا كَانَتْ سَائِمَةُ الرَّجُلِ نَاقِصَةً مِنْ أَرْبَعِينَ شَاةً وَاحِدَةً فَلَيْسَ فِيهَا صَدَقَةٌ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ رَبُّهَا وَفِي الرِّقَّةِ رُبْعُ الْعُشْرِ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ إِلَّا تِسْعِينَ وَمِائَةً فَلَيْسَ فِيهَا شَيْءٌ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ رَبُّهَا

“Ini adalah kewajiban zakat yang diperintahkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam atas kaum muslimin dan yang diperintahkan Allah Subhanahu wa Ta’ala melalui RasulNya: Dalam setiap 24 ekor onta dan yang kurang dari itu (zakatnya) kambing; pada setiap 5 ekor (onta), (zakatnya) satu kambing. Kalau telah sampai 25 ekor sampai 35 ekor, maka ada (zakat) binti makhad (onta perempuan yang berusia satu tahun); jika tidak ada, (maka) boleh dengan ibnu labun (onta laki-laki yang berusia dua tahun). Jika sampai 36 hingga 45 ekor, terdapat padanya binti labun (onta perempuan berusia dua tahun). Kalau sampai 46 hingga 60 ekor, terdapat hiqqah (onta perempuan yang telah sempurna berusia 3 tahun) yang siap dihamili oleh onta laki-laki. Kalau sampai 61 hingga 75 terdapat, jidzah(onta yang telah berusia 4 tahun). Kalau sampai 76 hingga 90 ekor, terdapat 2 bintu labun. Kalau sampai 91 hingga 120 ekor, terdapat 2 hiqqah. Kalau sampai lebih dari 120, maka setiap 40 ekor ada bintu labin dan setiap 50 hiqqah. Dan barangsiapa yang memiliki kurang dari 4 ekor onta, maka tidak ada zakatnya kecuali kalau pemiliknya menghendaki. Dan dalam zakat kambing yang digembalakan diluar; kalau sampai 40 ekor hingga 120 ekor ada satu ekor kambing. Dan jika lebih dari 120 sampai 200 ekor, ada 2 ekor. Jika lebih dari 200 sampai 300 ekor, (maka) ada 3 ekor dan kalau lebih dari 300 ekor, maka setiap 100 ekor ada satu ekor kambing. Jika gembalaan seseorang kurang dari 40, seekor saja maka tidak terdapat zakat, kecuali bila pemiliknya menghendakinya ” [16].

4. Nishab Zakat Hasil Pertanian Dan Buah-Buahan Serta Ukuran Zakatnya.
Zakat hasil pertanian dan buah-buahan disyari’atkan dalam Islam dengan dasar firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

وَهُوَ الَّذِي أَنشَأَ جَنَّاتٍ مَّعْرُوشَاتٍ وَغَيْرَ مَعْرُوشَاتٍ وَالنَّخْلَ وَالزَّرْعَ مُخْتَلِفًا أُكُلُهُ وَالزَّيْتُونَ وَالرُّمَّانَ مُتَشَابِهًا وَغَيْرَ مُتَشَابِهٍ كُلُوا مِنْ ثَمَرِهِ إِذَآأَثْمَرَ وَءَاتُوا حَقَّهُ يَوْمَ حَصَادِهِ وَلاَتُسْرِفُوا إِنَّهُ لاَيُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ

“Dan dialah yang menjadikan kebun-kebun yang berjunjung dan yang tidak berjunjung, pohon korma, tanam-tanaman yang bermacam-macam buahnya, zaitun dan delima yang serupa (bentuk dan warnanya), dan tidak sama (rasanya). Makanlah dari buahnya (yang bermaca-macam itu) bila dia berbuah, dan tunaikanlah haknya dihari memetik hasilnya (dengan dikeluarkan zakatnya); dan janganlah kamu berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan”. [Al An’am :141]

Adapun nishabnya ialah 5 wasaq, berdasarkan sabda Rasulullah n :

لَيْسَ فِيْمَا دُوْنَ خَمْسَةِ أَوْسُقِ صَدَقَةٌ

“Tidak ada di bawah lima wasaq zakat”.[17]

Satu wasaq setara dengan 60 sha’ [18]. Sedangkan satu sha’ setara dengan 2,175 kg [19] atau 3 kg.

Demikian menurut takaran Lajnah Daimah Li Al Fatwa Wa Al Buhuts Al Islamiyah (Komite Tetap Fatwa dan Penelitian Islam Saudi Arabia). Berdasarkan fatwa dan amal resmi yang berlaku di Saudi Arabia, maka nishab zakat hasil pertanian ialah 300 x 3 = 900 kg. Adapun ukuran yang dikeluarkan, bila pertanian itu didapatkan dengan cara pengairan (menggunakan alat penyiram tanaman), maka zakatnya sebanyak 1/20 (5%). Dan jika pertanian itu diairi dengan hujan (tadah hujan), maka zakatnya sebanyak 1/10 (10%). Ini berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

فِيْمَا سَقَتْ الأَنْهَارُ وَالغَيْمُ الْعُشُوْرُوَ فِيْمَا سُقِِيَ بِالسَّانِيَةِ نِصْفُ الْعُشُوْرِ

“Pada yang disirami oleh sungai dan hujan, maka sepersepuluh (1/10); dan yang disirami dengan pengairan (irigasi), maka seperduapuluh (1/20)”.[20]

Misalnya: seorang petani berhasil menuai hasil panennya sebanyak 1000 kg. Maka ukuran zakat yang dikeluarkan bila dengan pengairan (alat siram tanaman) ialah 1000 x 1/20 = 50 kg. Bila tadah hujan, sebanyak 1000 x 1/10 = 100 kg.

5. Nishab Zakat Barang Dagangan Dan Ukuran Zakatnya.
Pensyariatan zakat barang dagangan masih diperselisihkan para ulama. Menurut pendapat yang mewajibkan zakat perdagangan, nishab dan ukuran zakatnya sama dengan nishab dan ukuran zakat emas.

Adapun syarat-syarat mengeluarkan zakat perdagangan, sama dengan syarat-syarat yang ada pada zakat yang lain, dan ditambah dengan tiga syarat lainnya,yaitu:

a. Memilikinya dengan tidak dipaksa, seperti dengan membeli, menerima hadiah dan yang sejenisnya.
b. Memilikinya dengan niat untuk perdagangan.
c. Nilainya telah sampai nishab. [21]

Seorang pedagang harus menghitung jumlah nilai barang dagangan dengan harga asli (beli), lalu digabungkan dengan keuntungan bersih setelah dipotong hutang.

Misalnya: Seorang pedagang menjumlah barang dagangannya pada akhir tahun dengan jumlah total sebesar Rp 200.000.000,- dan laba bersih sebesar Rp 50.000.000,- Sementara itu, ia memiliki hutang sebanyak Rp 100.000.000,- Maka perhitungannya sebagai berikut:

Modal – hutang : Rp 200.000.000,- – Rp 100.000.000,- = Rp 100.000.000,-
Jadi jumlah harta zakat adalah Rp 100.000.000,- + Rp 50.000.000,- = Rp 150.000.000,-
Zakat yang harus dibayarkan: Rp 150.000.000,- x 2,5% = Rp 3.750.000,- [22]

6. Nishab Zakat Harta Karun Dan Ukuran Zakatnya.
Harta karun yang ditemukan, wajib dizakati secara langsung tanpa mensyaratkan nishab dan haul, berdasarkan keumuman sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

وَفِيْ الرِّكَازِ الْخُمُسُ

“Dalam harta karun temuan terdapat seperlima zakatnya”. [23]

CARA MENGHITUNG NISHOB.
Dalam menghitung nishab terjadi perbedaan pendapat. Yaitu pada masalah, apakah yang dilihat nishab selama setahun ataukah hanya dilihat pada awal dan akhir tahun saja?

Al Imam An Nawawi berkata,“Menurut mazdhab kami (Syafi’i), mazdhab Malik, Ahmad, dan jumhur, adalah disyaratkan pada harta yang wajib dikeluarkan zakatnya –dan (dalam mengeluarkan zakatnya) berpedoman pada hitungan haul, seperti: emas, perak dan binatang ternak– keberadaan nishab pada semua haul (selama setahun). Sehingga, kalau nishab tersebut berkurang pada satu ketika dari haul, maka terputuslah (hitungan) haul. Dan kalau sempurna lagi setelah itu, maka dimulai perhitungannya lagi, ketika sempurna nishab tersebut [24]. Inilah pendapat yang rajih, insya Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Misalnya nishab tercapai pada bulan Muharram 1423 H, lalu bulan Rajab pada tahun itu, ternyata hartanya berkurang dari nishabnya. Maka terhapuslah perhitungan nishabnya. Kemudian pada bulan Ramadhan (pada tahun itu juga), hartanya bertambah hingga mencapai nishab. Maka dimulai lagi perhitungan pertama dari bulan Ramadhan tersebut. Demikian seterusnya sampai mencapai satu tahun sempurna, lalu dikeluarkanlah zakatnya.

Demikian tulisan singkat ini, mudah-mudahan bermanfaat.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi, 07/Tahun VII/1424/2003M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-7574821]
_______
Footnote
[1]. Hadits riwayat Al Jamaah.
[2]. Lihat Al Mughni, karya Ibnu Al Qudamah 4/5.
[3]. Lihat Bidayah Al Mujtahidin 1/244.
[4]. Lihat Al Wajiz Fi Fiqhi Al Sunnah Wa Al Kitabi Al Aziz, karya Abdul’azhim bin Badawi, hal. 212 dan Al Zakat Wa Tanmiyat Al Mujtama’, karya Al Sayyid Ahmad Al Makhzanji, hal. 115.
[5]. Lihat Al Zakat Wa Tanmiyat Al Mujtama’, karya Al Sayyid Ahmad Al Makhzanji, hal. 118.
[6]. Ibid, hal. 117-118.
[7]. Lihat Syarh Al Mumti’ ‘Ala Zaad Al Mustaqni’, karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin 6/20
[8]. Lihat Al Zakat Wa Tanmiyat Al Mujtama’, karya Al Sayyid Ahmad Al Makhzanji, hal. 119.
[9]. Lihat Fiqh As Sunnah, karya Sayyid Sabiq 1/467.
[10]. Hadits ini diriwayatkan dari beberapa jalan periwayatan. Diriwayatkan dari jalan periwayatan Ibnu Umar oleh At Tirmidzi 1/123, dari jalan periwayatan ‘Aisyah oleh Ibnu Majah dalam Sunan-nya no. 1793, dari periwayatan Anas bin Malik oleh Al Daraquthni dalam Sunan-nya no. 199 dan periwayatan
Ali bin Abi Thalib oleh Abu Daud dalam Sunan-nya no. 1573. Hadits ini dihasankan oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani dalam kitab Irwa Al Ghalil, 3/254-258.
[11]. Lihat Syarh Al Mumti’ 6/ 24.
[12]. Dalam Syarh Al Mumti’ 6/103.
[13]. Dalam Fiqhu Az Zakat.
[14]. Hadits Ali bin Abi Thalib ini diriwayatkan oleh Abu Daud dalam Sunan-nya no.1573 dan Al Baihaqi dalam Sunan Al Kubra 4/95. Hadits ini dihasankan Syaikh Al Albani dalam Irwa’ Al Ghalil 3/256.
[15]. Hadits diriwayatkan Imam Al Bukhari dalam Shahih-nya no. 1362.
[16]. Hadits diriwayatkan Imam Al Bukhari dalam Shahih-nya no. 1362.
[17]. Muttafaqun ‘alaihi.
[18]. Menurut kesepakatan, lihat penjelasan Ibnu Hajar dalam Fathul Bari 3/364.
[19]. Menurut hitungan Syaikh Abdullah bin Sulaiman Alimani’ dalam makalah beliau yang berjudul Bahtsun Fi Tahwili Al Mawaziin Wa Al Makayil Al Syari’ah Ila Al Maqadir Al Mu’ashir, dalam Majalah Buhuts Al Islami Edisi 59, hal. 195. Menurut perhitungan beliau, nishab zakat pertanian dan buah-buahan ialah 300 x 2,175 = 652,5 kg.
[20]. Riwayat Muslim 2/673.
[21]. Lihat naskah penulis dalam majalah As Sunnah edisi 05/IV/1420/2000
[22]. Lihat Panduan Praktis Menghitung Zakat, karya Adil Rasyad Ghanim (edisi terjemahan), hal. 14.
[23]. Muttafaqun ‘alaihi. Lihat Al Wajiz Fi Fiqhi Al Sunnah Wa Al Kitabi Al Aziz, hal. 218.
[24]. Dinukil oleh Sayyid Sabiq dari ucapannya dalam Fiqh as-Sunnah 1/468


Sumber: https://almanhaj.or.id/2805-syarat-wajib-dan-cara-mengeluarkan-zakat.html

Cari Artikel